kalo kita suka sama orang bukan berarti kita bisa seenaknya memegang tangannya kan?
Blue Mosque, Istanbul :) – View on Path.
Tulisan ini adalah karya Effendi Gazali, Peneliti Komunikasi Politik. Terbit di Kompas, 28 Mei 2013. Layak...
Daftar panitia dan relawan RAOS di http://raosproject.com/relawan-raos yuk! :D
Menyemarakan senja Ramdhan dengan acara sejenis pasantren kilat, mengajarkan Al Quran dan dasar keislaman ke anak-anak. Kebetulan untuk yang ini diadainnya di kecamatan Coblong, Bandung. Kalau mau ngadain acara serupa dengan nama yang sama di tempat kamu, boleh banget! Duplikasi itu mudah kok! Kontak aja tuk detailnya :)
Tahun lalu kita adain di mesjid yang punya demand peserta untuk ngadain sanlat tapi kurang supply pengajaralias mesjid yang butuh SDM. Sekitar 20 hari diadain RAOS di 9 mesjid dan respon masyarakatnya bagus! Terakhir ditutup lomba-lomba yang dinamain “Ramadahan Olympic“ rame ku barudak laleutik. Perwakilan 200an peserta ikut lomba dari berbagai mesjid. Kira-kira ga kurang dari 350 yang ikut sanlatnya. Seru lah!
Hayuuu~
~rencana program-program RK-Oded untuk Bandung Juara !! Wargi Bandung sadayana tong hilap tanggal 23 coblos no 4 !!
Pendidikan Sebuah Pengantar
Pendidikan mengacu pada beberapa istilah sebut saja ta’lim, tarbiyah, dan ta’dib. Setiap istilah tersebut mempunyai penekanannya masing-masing untuk menggambarkan pendidikan seperti apa yang terbentuk nantinya.
1. Ta’lim
Secara bahasa berarti mengerti, memberi tanda, mengecap. Ia disimpulkan sebagai “usaha untuk menjadikan seorang (anak) mengenal tanda-tanda, membedakan sesuatu dari yang lainya , dan mempunyai pengetahuan, dan pemahaman yang benar tentang sesuatu” sehingga membuat seseorang berilmu atau pengajaran ilmu itulah ta’lim.
2. Tarbiyah
Secara bahasa berarti berkembang, merawat, memelihara, memperbaiki, memperindah, menjaga kelestarian.dalam konteks yang luas pengertian tarbiyah terdiri atas empat unsur pendekatan yaitu :
1). Memelihara dan menjaga anak didik menjelang dewasa
2). Mengembangkan seluruh potensi menuju kesempurnaan
3). Mengarahkan seluruh fitrah menuju kesempurnaan
4). Melaksanakan pendidikan secara bertahap
Dari penjabaran muatan makna yang terkandung dalam istilah tarbiyah, maka pendidikan yang ditawaran haruslah berproses, terencana, sistematis, memiliki sasaran yang ingin dicapai, ada pelaksana (pendidik), serta memiliki teori-teori tertentu
3. Ta’dib
Ia berarti ‘mendisiplinkan berprilaku sopan santun’, memperbaiki, mendidik, ‘mengadakan perjamuan yang berbuat dan berprilaku sopan santun. Ta’dib mengandung pengertian usaha untuk menciptakan situasi dan kondisi sedemikian rupa, sehingga anak didik terdorong dan tergerak jiwanya dan hatinya untuk berprilaku dan bersifat sopan santun yang baik sesuai dengan yang diharapkan.orientasi kata ta’dib lebih terfokus pada upaya pembentukkan pribadi muslim yang berahlak mulia.[1]
Bab Satu
Pendidikan diperlukan agar seseorang menjadi pintar. Pintar berarti mendapat nilai bagus dalam berbagai mata ajaran seperti matematika,pelajaran ilmu alam,pelajaran ilmu sosial, sejarah bahkan filsafat.
‘Penguasaan ilmu pengetahuan saja’ setidaknya itu yang terasa dari indikator pendidikan yang selama ini saya jalani selama kurang lebih 17 tahun. Dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi. Pun dari apa yang terlihat dari adik-adik kita yang mengenyam pendidikan dengan berbagai tipe kurikulum yang cepat sekali berubah. Apakah memang pendidikan itu melulu menjadikan seseorang harus pandai dan mempunyai nilai mentereng dalam matematika, fisika, atau ekonomi misalnya? Apa memang itu yang harus diajarkan pertama kali dalam proses pendidikan?
Sayang sungguh sayang ketika pendidikan yang mengajarkan matematika, ilmu alam, ilmu sosial dan cabang ilmu pengetahuan lainnya atau bahkan seni ,seperti musik, menjadi hal yang terlalu dikedepankan. Apalagi untuk yang pertama kali diajarkan kepada anak-anak atau bahkan kepada kita dahulu.Saya sepakat kepada mereka yang mengatakan bahwa semua itu tidak tepat sebagai prioritas yang harus diajarkan dan dipahamkan pertama dalam proses pendidikan seorang manusia.
Satu bab pertama yang semakin pudar, bahkan bisa jadi hilang, dari proses panjang pendidikan kita dan anak-anak kita. Adab.
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.“Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.[2]
Yaitu Adab kepada Allah dan adab kepada manusia, itulah prioritas pendidikan kita seharusnya. Hal yang pertama harus diajarkan dan dipahamkan. Kita yang sudah terlanjur seperti sekarang biarlah, tinggal kita belajar terus agar terus lebih baik. Namun jangan sampai generasi masa depan, anak-anak kita, menapaki langkah pendidikan yang tidak tepat. Kedua adab itulah yang harus dipahamkan betul kepada anak-anak kita nanti.
————————————————————————————————————————
[1] Slide Pengantar Ta’lim Muta’alim oleh Ustad Bambang
[2] Al Quran terjemahan surat Luqman ayat 13-19
Suatu ketika seorang ayah berkata kepada anaknya tentang kedatangan orang mulia yang akan bertamu tidak lama lagi, “Wahai anakku, esok akan ada seorang ulama besar yang akan bertamu kerumah kita. Bersikap baiklah engkau kepadanya. Pelajarilah ilmu kepadanya.” Dengan rasa penasaran sang anak menanti kedatangan orang mulia yang disebutkan, “Siapakah gerangan orang tersebut sampai ayahku yang juga ulama bergembira menyambut kedatangannya?”
Ulama yang ditunggu akhirnya datang juga, ketika itu hari sudah malam dan jamuan makan malam pun dihidangkan untuk menyambutnya. Terlihat beliau makannya banyak dan juga lahap. Kemudian setelah makan terlihat langsung masuk ke kamar tidur. Sang anak sedikit mengerutkan dahi sambil bergumam dalam hatinya, “Bukankah makan secukupnya itu lebih baik? Dan bukankah setelah makan tidak diperkenankan tidur?”, sang anak agak heran dengan perilaku ulama tersebut.
Esok harinya sang anak melihat ulama tersebut keluar dari kamar tidur dan langsung melaksanakan shalat shubuh. Keheranan semakin bertambah dan hal itu mulai menggangu pikiranya. Ditanyakanlah keheranan itu kepada ayahnya, “Ayah, mengapa ulama sahabat ayah itu ketika makan banyak sekali dan langsung tidur? Dan mengapa beliau ketika bangun untuk shalat tidak berwudhu?” Sang ayah lantas menyuruh anaknya untuk bertanya langsung kepada ulama sahabatnya itu.
“Wahai ulama, ada hal yang membuatku heran dengan beberapa perilaku yang terlihat olehku. Bolehkah saya bertanya kepada anda?” sang anak bertanya. Ulama lantas mempersilahkan pertanyaannya untuk disampaikan.
“Mengapa engkau makan begitu banyak dan langsung tidur kemarin malam?” sang anak memulai pertanyaannya.
“Ayahmu adalah orang yang penuh berkah,anakku. Makanan yang tersaji diatas meja orang yang diberkati pastilah memiliki keberkahan.Aku tidak ingin menyia-nyiakan hal tersebut. Ketahuilah aku memang masuk ke kamar tidur setelah makan karena lelah dengan perjalanan. Aku ingin beristirahat namun aku tidak tidur.”
“Lalu, bagaimana bisa engkau tadi shalat tanpa berwudhu?” Puncak keheranan yang menjadi pertanyaan besar.
“Setelah aku masuk kedalam kamar aku tidak tidur, sesungguhnya aku merenungi salah satu hadits Rasulullah saw sepanjang malam. Hadits itu berbunyi يا أبا عمير؛ ما فعل النغير
‘Wahai Abu Umair (panggilan untuk anak tersebut, pen.), apa yang dilakukan oleh burungmu?’ Dari sana kudapatkan 73 hal (hukum). Dan karena aku tidak tidur aku, pun langsung mengerjakan shalat karena wudhuku masih terjaga”
“Ah…” Sang anak mengangguk dan ia pun mulai bertanya banyak hal kepada ulama tersebut.
———————————————————————————————————————-
Cerita diatas di modifikasi dari kisah Imam Syafi’i yang berkunjung kepada Imam Ahamd bin Hambal.
REPUBLIKA.CO.ID,Oleh Asma Nadia
Mengapa banyak mal, toko buku besar, bioskop, hotel, serta perkantoran megah, memiliki mushala tak layak, hanya menampung dua tiga orang, terkadang berada di bawah tangga, sehingga sulit untuk berdiri tegak saat beribadah.
Dan, ini terus berlangsung meski staf…
Dalam museum Louvre, Paris, di salah satu lukisan Bunda Maria dan bayi Yesus, di bagian hijabnya, terdapat inskripsi arab yang bertuliskan “La ila ha Ilallah.”
Axe historique adalah garis imajiner yang membelah kota Paris, bernama lain “voie triomphale” yang berarti…
Baca bukunya! Ga akan nyesel deh :D